







Sang pemilik Brian Caseley (65), secara teratur membawa mobil yang baru saja lulus tes kelayakan (MOT), untuk berkeliling di sekitar kota kelahirannya di Sherborne, Dorset.
Tidak diketahui berapa kilometer yang telah ditempuh mobil tersebut, karena pada saat pembuatannya, mobil Inggris belum dipasangi pengukur jarak.
Caseley membeli mobil pada tahun 2004 dari seorang teman yang mengumpulkan mobil kuno.
“Seperti mimpi saja melihat mobil ini masih berjalan. Saya sangat bangga dan sering memamerkan mobil ini di jalanan.” tutur Caseley.
“Mobil ini tidak pernah rusak dan masih sebagus seperti hari pertamanya dibuat.” tambah istrinya, Pat (63),.
“Mobil ini berbahan bakar bensin, dan dapat menempuh 30 sampai 40 mil per galon bahan bakar, sehingga lebih efisien daripada kebanyakan mobil modern.”
Dengan Motor satu silinder serta kecepatan tertinggi 29 mil per jam (46km), Mobil ini mempunyai plat asli, CJ 164 dan masih dalam kondisi mulus.
Mobil ini awalnya dimiliki oleh EH Greenly, dari Titley Court, Herefordshire, pada tahun 1905.
Caseley kemudian melacak leluhur David Forbes, yang adalah ayah tiri kakek yang memiliki mobil tersebut, setelah melihat gambar seorang pria bernama Jack Greenly duduk di dalam mobil itu pada tahun 1906.
Forbes kemudian bertemu kembali dengan mobil tersebut dua minggu lalu ketika Brian mengendarainya untuk sebuah rally mobil kuno di Herefordshire.
“Sungguh menyenangkan untuk melihat mobil itu.” kata keluarga yang masih tinggal di Titley Court tersebut.
“Brian mengajakku berkeliling dengan mobil itu. Dia telah merawat mobil tersebut dengan sangat baik.”
Wolseley 6 adalah salah satu dari mobil pertama yang diproduksi oleh perusahaan Wolseley Frederick di Birmingham. Dan dirancang oleh Herbert Austin yang kemudian mendirikan Perusahaan Austin Motor.[ SUMBER ]
Tidak banyak yang tahu atau menyadari keajaiban dari apa yang kita miliki: air mata, air telinga, dan air liur. Fakta ilmiah ini terkadang disepelekan, padahal ketiganya memiliki fungsi berlainan yang memang diciptakan demikian oleh sang Pencipta sehingga kita dapat hidup dengan sangat baik.
Air mata berasa asin karena memang kandungannya yang meliputi leusinenkefalin, adrenokortikotropik, dan prolaktin serta beberapa elektrolit, protein pengikat lemak dan Imunoglobulin A yang keseluruhannya menghasilkan rasa asin.
Dimana fungsi utama dari keseluruhannya ialah menjaga kondisi mata agar tetap stabil. Protein pengikat lemak itu sendiri membuat lapisan terluar yang terdiri dari lapisan lemak yang fungsinya melindungi kelembaban mata tetap utuh.
Air telinga kita pahit, sebenarnya merupakan hasil sekresi dari kelenjar-kelenjar di dalam telinga yang bersifat basa dan lengket. Sekresi ini memungkinkan telinga yang mana lubangnya terbuka dan tanpa penutup itu bilamana termasuki oleh serangga ataupun makhluk kecil lain menjadikan mereka tidak tahan berlama-lama di dalamnya dan segera keluar dari telinga.
Cairan yang cenderung lengket menjadikan benda-benda kecil yang masuk cenderung terperangkap dan dapat dikeluarkan sebagai kotoran telinga.
Air liur kita memang berasa tawar. Ini dikarenakan memang fungsi daripadanya yang berhubungan dengan rasa dari makanan yang kita makan. Dapatkah Anda bayangkan jika air liur kita berubah rasa? Sangat-sangat tidak mengenakkan sekali pasti di kala menyantap makanan. Ini pun pasti Anda rasakan ketika Anda sakit. Minum air tawar pun berasa pahit. Sangat tidak nyaman. Air liur mengandung enzim dan beberapa protein dan zat antibakteri.
Pada waktu Anda sakit, kandungan dari air liur berubah sedemikian rupa sehingga komposisi daripadanya cenderung menghasilkan cairan yang agak basa. Inilah mengapa Anda merasakan rasa pahit saat sakit dan sangat tidak nyaman di kala menyantap makanan.
Sumber: http://maskolis.blogspot.com/2011/06/mengapa-air-mata-asin-air-telinga-pahit.htmlPenampilannya mirip tunawisma, tapi ia tinggal di apartemen mewah senilai Rp.31 miliar.
Tiga tahun lagi, usianya genap 100 tahun. Dengan tubuh renta, dan mata yang tak lagi awas melihat, setiap hari pria itu berjalan pincang, membawa keranjang dorong, menghampiri mobil-mobil yang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Kepada para pengemudi, ia meminta recehan dan menawarkan koran gratis sebagai balasannya. Orang yang tak tahu pastilah menganggapnya sekedar pengemis. Namun siapa sangka kakek renta itu pernah dikenal sebagai ‘orang terkemuka di dunia’.
Dia adalah Irwin Corey, komedian, aktor, juga aktivis politik sayap kiri. Setiap hari, tujuh hari dalam seminggu, ia menyusuri Jalan East 35th, Manhattan. Sudah 17 tahun ia melakukan kegiatan itu.
Tentu saja, Corey — yang sekian lama malang melintang berkarir di Broadway, televisi, teater, dan klub komedi — tak membutuhkan uang, apalagi recehan yang ia kumpulkan.
Bahkan, ia sama sekali bukan tunawisma — seperti penampilannya yang berantakan dan kumuh. Ia punya apartemen di kawasan elit New York yang nilainya diperkirakan US$3,5 juta atau sekitar Rp31 miliar.
Lalu apa alasannya menyamar jadi gembel dan mengemis di jalanan?
Jawab Corey: untuk membunuh rasa kesepian akibat ditinggal istri yang mendampinginya selama 70 tahun, Fran. Juga untuk menolong sesama.
Pria 97 tahun itu juga tak pernah mengantongi uang yang ia kumpulkan — yang sehari bisa mencapai US$250 atau sekitar Rp2,2 juta. Uang itu dia sumbangkan untuk bantuan medis pada anak-anak di Kuba. Ia bahkan pernah mengunjungi Kuba membawa bantuan. Fotonya bersama dengan Fidel Castro ia pajang di dinding apartemennya yang mewah.
Corey mengaku, belum sepenuhnya meninggalkan karirnya di dunia hiburan yang ia jalani selama delapan dekade. Ia masih tampil reguler — minggu lalu ia tampil sebuah klub lokal di Chicago.
Di dunia hiburan, Corey mendapat julukan ‘Profesor’ sejak 1940-an dengan tampilannya yang khas: jas berekor, dasi tali, sepatu tinggi, dan rambut berdiri mirip orang-orangan sawah.
Ia bersikap sopan pada orang-orang yang memberinya koin di jalanan. Juga menyapa dengan sapaan lucu, “see you later, alligator“.
Dalam wawancara dengan New York Times, ia tak menjelaskan secara rinci posisi keuangannya. Namun, agen yang menanganinya lebih dari 50 tahun, Irvin Arthur (85) mengatakan, Corey tak butuh uang, sampai-sampai harus mengemis di jalanan. “Ini bukan soal uang, untuk Irwin, jalanan adalah panggung pertunjukkannya.”