Friday, March 29, 2013

Injil Barabas

Do you want to share?

Do you like this story?


Kita tidak pernah berpikir panjang tentang Barabas. Cap yang ada dalam pikiran kita adalah dia seorang kriminal, penjahat kelas berat. Alkitab menyatakan dia seorang yang terkenal kejahatannya (Matius 27:16), pembunuh dan pemberontak menurut versi Markus. Kalau pakai istilah sekarang, tepatnya dia adalah teroris karena dia memberontak melawan pemerintah Romawi pada waktu itu. Bagi hukum dan undang-undang Romawi kualifikasinya sudah cukup membawa dia pada eksekusi pasti yaitu dengan metode penyaliban. Salib? Ya, mendengar kata itu sudah cukup membuat orang merinding karena salib adalah metode hukuman penyaliban yang dilakukan Romawi yang membuat orang tidak hanya dipermalukan tapi disiksa dengan intensitas kesakitan yang maksimal. Saking sadisnya maka hukuman ini hanya berlaku bagi para penjahat yang bukan orang Romawi.  Barabas menunggu saat eksekusi di selnya. Bayangan penyiksaan, cemoohan dan pemakuan serta penghancuran kaki pasti akan menghantui dirinya. Itulah penantian yang dia tunggu. Lambat tapi pasti akan datang. Derita dan kematian sudah menunggu, tinggal dalam hitungan waktu.  Itu vonis yang layak dan patut dia terima.

Tiba-tiba datang perintah dari Procurator Pilatus, prajurit Romawi menyeretnya keluar dari selnya dan membawanya kepada orang banyak. Tidak terbersit sedikitpun pikirannya untuk dibebaskan. Apalagi ia disandingkan dengan Yesus yang jauh lebih baik dari dirinya. Yesus memang dituduhkan sebagai pemberontak tetapi dia Yesus tidak ada apa-apanya dibanding Barabas. Barabas jelas-jelas memberontak kepada penguasa Romawi dan bukti yang ada sudah lebih dari cukup untuk membawanya pada hukuman mati. Barabas,  penjahat yang tidak memiliki harapan dan tinggal menanti ajal di depan mata, tiba-tiba mendapat pembebasan tak bersyarat. Tak ada hukuman percobaan atau sebatas penangguhan hukuman. Tak ada yang namanya pengurangan hukuman. Totally free. Bebas sama sekali.

 Mari kita tinjau bersama kasus Barabas!

Barabas tidak memiliki hak apapun untuk dibebaskan. Apa jaminan atau kualifikasi sehingga dia dia dipilih?. Tidak ada sama sekali. Ironisnya  Barabas dipilih justru karena kejahatannya yang luar biasa. Pilatus memilihnya dengan alasan rakyat tidak akan memilih tokoh yang antagonis. Jadi setelah menimbang-nimbang maka pilihannya jatuh pada  Barabas ini.

Barabas layak menerima vonis hukuman mati menurut undang-undang. Undang-undang Romawi yang berlaku di seluruh wilayah jajahannya termasuk Palestina jelas memberikan vonis yang berat bagi orang non Romawi yang kedapatan melakukan kejahatan berat. Barabas memenuhi syarat untuk itu dan vonis hukuman untuk kejahatannya adalah hukuman salib yang mengerikan.

Barabas tidak melakukan apapun untuk pembebasan dirinya. Dia dibebaskan bukan karena  didapati ada perubahan atau sudah menunjukkan sikap berkelakukan baik di penjara. Tidak ada indikasi perubahan atau pertobatan sedikitpun yang membuat dia layak dipertimbangkan untuk dibebaskan. Tidak ada rekomendasi sedikitpun dari sipir penjara tentang perubahan hidupnya.

Barabas mendapatkan pembenaran walaupun statusnya tetap seorang yang jahat. “Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan” (Matius 27:26). Secara legalitas status hukum Barabas sebagai orang bebas adalah sah karena disahkan secara hukum oleh Pilatus. Kendatipun perbuatannya melawan hukum alias tidak bisa dibenarkan tetapi putusan pengadilan itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. 

Pembebasan Barabas terjadi karena Yesus menggantikan tempat, posisi dan hukumannya. Yesus menggantikan Barabas bukan hanya sekedar masuk penjara, tetapi untuk menjalani hukuman kematian dengan penyaliban dan  segala kejahatan, kutuk dan dosa ditimpakan kepada Yesus.

Aplikasi                :

Kerap kita menujuk bahwa Barabas itu jauh lebih jahat dibanding kita. Mungkin kita bukan seorang berstatus napi, pembunuh atau pemberontak model Barabas tetapi sesungguhnya kita adalah pemberontak di mata Allah. Natur kita di hadapan Allah membuat kita tidak pernah bisa melakukan apa yang dimaui dan diingini oleh Tuhan. Yang ada adalah keegoisan dan keinginan diri sendiri, ini merupakan dosa yang jelas melawan Allah. Bahkan tanpa kita sadar, kita berdosa dengan bermodal dari Tuhan. Mulut yang Tuhan cipta, kita pakai untuk memaki dan mengutuk atau menggerutu. Tangan pemberian Tuhan kita pakai buat menjahili dan mengusili sesame bahkan mengambil milik orang lain. Pikiran yang Tuhan ciptakan kita pakai untuk berpikir yang negatif dan berangan-angan untuk memperdayai sesame. Sesungguhnya, kitalah Barabas itu. Kita sebenarnya tidak layak menerima pembebasan itu. Kita justru patut dihukum mati. Tapi Kristus mengasihi kita , bukan hanya dengan kata tapi dengan memberikan nyawa-Nya untuk kita. J. C. menyatakan dengan tepat sekali, "Let us freely confess that, like Barabbas, we deserve death, judgment and hell. But let us cling firmly to the glorious truth that a sinless Savior has suffered in our stead, and that believing in him the guilty may go free." (Expository Thoughts on the Gospels, vol. 2, p. 459).

Kesempatan yang Tuhan berikan seringkali kita tidak manfaatkan untuk memuliakan Tuhan. Barabas diberi kesempatan kedua tapi dia tidak pernah bertobat. Tidak ada indikasi pertobatan dalam diri orang ini. Masuk keluar penjara, dia masih seperti yang dulu. Dalam khotbah Petrus dalam Kisah Para rasul, dia masih menyebutkan bahwa Barabas itu seorang pembunuh. Kalau dia jahat dan bertobat, lihat saja Paulus seorang penganiaya jamaat akahirnya menjadi pelayan Tuhan dandicatat dalam Kitab Suci. Kitab Suci hanya menyebut pembebasan Barabas dan itulah kisah akhirnya. Betapa sering juga orang Kristen yang hanya melihat pengorbanan Kristus itu sebagai pengorbanan yang bermakna sesaat. Yang penting sudah bebas tapi tidak mau hidup sungguh-sungguh untuk Tuhan. Melihat pengorbanan Kristus itu hanya untuk kepentingan dirinya. Penebusan Kristus dipahami sempit sebagai berkat yang mendatangkan kemakmuran, kesehatan dan kesuksesan dalam bisnis belaka! Pengorbanan Kristus sejatinya adalah membuat kita menjadi milik Kristus. Seperti yang Paulus katakan, "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."




YOU MIGHT ALSO LIKE

0 Comment:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements