Wednesday, December 12, 2012

Herodes Agung yang Tidak Agung

Do you want to share?

Do you like this story?

Herodes Agung adalah raja Israel yang terkenal pada masanya. Dia mendapat predikat “Agung,” karena berbagai kelebihan yang dia miliki. Memerintah di Yudea, Herodes Agung atau dikenal sebagai Herodes I sebenarnya adalah raja boneka dari Kekaisaran Romawi. Dia berasal dari keluarga Edom tetapi mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Yahudi.Benarkah dia adalah seorang Raja yang Agung? Musuhnya mengatakan,”Dia mencuri kekuasaan seperti serigala, memerintah seperti macan tetapi mati seperti anjing.” Tampaknya sindiran dari musuhnya itu memperlihatkan tentang sifat 'kebinatangan' dari Herodes. Herodes yang dikenal agung atau besar itu justru tidak memperlihatkan keagungan dan kebesaran sejati sebagai raja.

Raja yang satu ini memang kontroversial. Memerintah dalam waktu yang cukup lama di kalangan orang Yahudi kendati tidak disukai orang Yahudi, Herodes berusaha mengambil hati orang Yahudi dalam wilayah pemerintahannya. Apa saja kelebihan atau hal kepiawaian yang dimiliki Herodes ini?

KELEBIHAN

Lihai dalam Berpolitik
Untuk urusan politik dan berdiplomasi atau kasarnya menjilat, Herodes jagonya. Herodes pertama kali menjabat sebagai gubernur tetapi karena kelihaiannya dalam berpolitik maka dia dengan segera naik menjadi raja Israel. Herodes pintar mengambil hati penguasa Romawi pada zamannya yaitu kaisar Agustus. Agustus waktu itu dalam perebutan kekuasaan dengan Antonius, sahabatnya sendiri. Kendati sebelumnya Herodes mendukung Antonius tapi  di menit-menit terkahir dia berbalik dan mendukung Agustus. Agustus sendiri tampak menyukai Herodes dan atas dasar itulah maka tahun 30 SM Agustus mempercayakan Herodes untuk menduduki tampuk kekuasaan di Israel.

Piawai dalam Membangun
Raja Herodes juga dikenal sebagai seorang Raja yang gemar melakukan pembangunan konstruksi yang masif.  Tahun 23 SM Herodes membangun sebuah istana di Yerusalem dan benteng Herodian di Yudea. Tahun 22 SM Pembangunan dimulai di Caesarea Maritima dan pelabuhannya. Sekitar 20 SM perluasan dimulai pada Bait Allah Kedua. Ia mencuri hati banyak orang dengan segala proyek bangunannya. Ia juga membangun amfiteater juga benteng yang megah dengan rumah pemandian yang mewah. Banyak bangunan bekas peninggalan Raja Herodes yang bahkan mengesankan para insinyur modern saat ini. Ada banyak spekulasi mengenai alasan dia melakukan pembangunan yang megah tersebut. Salah satunya ada yang mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk popularitas sang Raja Herodes. 

TABIAT ASLINYA

Kejam dan Gila Kuasa
Tapi di balik kelihaiannya berpolitik dan kemampuannya membangun yang hebat terdapat sifat dan karakternya yang kejam. Di awal pemerintahannya sudah diwarnai dengan pertumpahan darah yaitu menghabisi kaum pemberontak di Galilea. Sebagai raja, Herodes tidak segan-segan untuk melenyapkan musuh poliitiknya. Bahkan lebih dari itu dia tega membunuh anggota keluarganya sendiri demi mempertahankan kekuasaannya. Herodes bahkan bertindak lebih jauh yaitu orang yang dia anggap punya potensi untuk menjadi musuh atau menurutnya bisa menjadi ancaman di masa depan untuk menggusur kekuasaannya maka dia dengan segera bertindak yaitu langsung menghabisinya tanpa ampun. 

Tidak heran Herodes mendapat julukan paranoid karena sifatnya yang gampang curiga terhadap siapapun termasuk keluarganya sendiri. Istrinya yang sebenarnya sangat dicintainya dibunuh dalam usia muda karena sifat Herodes yang mudah cemburu. Ibu mertuanya juga dibunuh oleh Herodes. Tragisnya tiga anaknya juga mati di tangannya sendiri. Tahta kekuasaan Herodes berlumur darah akibat banyaknya pembunuhan keji yang dia lakukan. Kaum rohaniwan pun tidak luput dari tebasan pedang hukuman Herodes. Kaum Sanhedrin yang terdiri dari orang Farisi dibantai oleh Herodes yang mengakibatkan kebencian yang makin dalam dari orang Yahudi terhadap dia.

Upaya yang masih termasuk halus yang dia lakukan demi mengamankan tahtanya adalah saat  Herodes mengangkat adik iparnya yang berusia 17 tahun Aristobulus III dari Yudea menjadi Imam Besar, karena ia khawatir bahwa orang-orang Yahudi akan mengangkat Aristobulus menjadi "raja orang Yahudi" untuk menggantikannya. Tapi karena Aristobulus berdarah Yahudi murni membuatnya makin populer dan disukai sebaliknya hal itu  mencemaskan Herodes. ia pun menenggelamkan Aristobulus dalam sebuah pesta!

Raja yang Gemar Berpoligami
Selain itu sebagai raja, Herodes ini adalah raja yang agresif melakukan poligami. Dia tidak peduli hubungan darah, yang masih termasuk keluarganya pun disikat sama Herodes. Nafsu berkuasa sama besarnya dengan nafsunya untuk memiliki banyak istri. Tidak terhitung lagi banyaknya istri dan anak dari si Herodes ini. 

Herodes dalam Alkitab
Uniknya Herodes yang Agung itu tidak banyak disinggung dalam Alkitab. Cuplikan tentang Herodes itu muncul dalam Injil Matius pasal 2 dan berakhir di akhir pasal 2. Kisahnya hanya singkat yang berujung lagi-lagi pada kekejaman yang dilakukannya. Asal tahu saja, usia Herodes pada waktu mendengar kabar tentang kelahiran Raja Baru dari orang Majus itu adalah 70 tahun. Usia yang sudah lanjut tapi sang kakek ini tidak mau disaingi siapapun sampai dia mati. Keinginan berkuasa seumur hidup sudah menjadi tekad Herodes sehingga dia akan berusaha menyingkirkan siapapun yang bakal menyainginya termasuk raja yang masih bayi sekalipun. Kondisi Herodes juga waktu itu sebenarnya sudah sangat lemah dan sakit-sakitan tapi nafsu berkuasanya tetap kuat!

Makanya Herodes “terkejut”, mendengar kabar dari orang Majus mengenai kelahiran Raja Baru tersebut. Keterkejutannya bukan karena dia nggak menyangka ada raja baru di wilayahnya tetapi lebih kepada dia merasa ada ancaman baru yang muncul di akhir pemerintahannya sementara dia beranggapan bahwa dia sudah mengendalikan dan mengamankan musuh-musuhnya. Eh, tau-tau ada raja yang masih bayi lahir di wilayah yang dekat dengan Yerusalem. Ini cari gara-gara namanya!

Herodes tidakt bertindak gegabah. Dia dengan licik bertindak elegan dengan mengatakan kepada para Majus untuk mengecek dulu dan barulah kembali memberitahukannya. Bahkan Herodes mengatakan hendak “menyembah-Nya”, suatu perkataan yang terdengar mulia tapi di balik itu tersembunyi motif yang jahat.

Ketika Herodes tahu bahwa orang Majus telah memperdayanya, Herodes dengan cepat bereaksi. Dia marah seperti dicatat penulis Injil yaitu Matius, benar-benar menggambarkan tabiat asli raja ini. Kemarahannya seperti biasa langsung diikuti perintah eksekusi untuk membantai bayi-bayi di Bethlehem. Keluarga yang tidak menyerahkan anaknya dihukum. DI kota yang kecil itu populasi bayi sekitar 20-30 bayi. Sejarawan Yahudi yaitu Josephus memang tidak mencatat kisah ini. Tetapi jelas tidak bisa dipungkiri bahwa latar belakang Herodes sangat mendukung dia untuk melakukan tindakan ini. 

Macrobius, seorang sejarawan kafir, mengatakan bahwa ketika Kaisar Agustus mendengar bahwa Herodes membunuh anaknya sendiri di antara anak berusia dua tahun yang disuruh untuk dibunuh, mengatakan dengan nada mencibir—bahwa “lebih baik menjadi babi Herodes daripada menjadi anaknya.” Adat wilayah itu melarangnya membunuh babi, tetapi tidak ada yang menahan Herodes untuk membunuh anaknya sendiri. Beberapa hari kemudian Herodes pun mati karena sakit. 


Herodes adalah gambaran orang yang sifat dasarnya adalah tidak pernah puas, haus dengan kekuasaan, ingin selalu dirinya menjadi pusat dalam segala hal. Maka ketika dia mendengar raja yang baru lahir dia tidak pernah terpikir untuk menunjukkan respek. Dia bertindak untuk dan demi dirinya sendiri. Dia tidak mau menundukkan dirinya untuk menyembah sang Raja yang baru lahir.

Herodes sebenarnya terlibat dalam pembangunan Bait Suci tetapi apa yang dilakukannya bukan karena dia takut akan Tuhan. Seseorang bisa saja membangun tempat yang suci atau kudus bagi Tuhan tetapi kalau dia sendiri tidak mau hidup tunduk kepada Allah dan hidup takut akan Tuhan maka hidupnya tidak akan memperkenakan hati Tuhan. Terbukti Herodes membangun hanya untuk menarik simpati massa bukan karena motivasi yang benar. Demi  menarik massa Herodes melakukan apa yang menyenangkan hati massa padahal Tuhan sendiri menginginkan motivasi yang tulus dan benar. Ini sama saja memanipulasi hal rohani untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. 



referensi : wikipedia/livius/aish




YOU MIGHT ALSO LIKE

0 Comment:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements