Sunday, August 12, 2012

Brenti Jo Bagate

Do you want to share?

Do you like this story?

Majalah TIME memuat fakta yang menarik tentang alkohol: 1 dari 25 kematian di dunia disebabkan oleh alkohol, berdasarkan studi yang dilakukan oleh  British medical journal the Lancet. Masalah 'bagate' atau minum minuman keras ternyata adalah bagian dari masalah global yang mengancam kesehatan penduduk bumi dan tingkat daya rusaknya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Faktor-Faktor Penyebab Seseorang Bagate

Bagi anak muda di Minahasa atau Manado, bagate itu sudah dianggap biasa. Bagate itu adalah slang yang dipakai untuk seseorang yang minum minuman keras entah produk lokal atau hasil oplosan dengan minuman lain. Karena sudah biasa maka akhirnya kebiasaan minum minuman keras ini jadi budaya yang terus lestari sembari memakan korban dalam berbagai generasi.
Walaupun dikenal sebagai daerah yang religius tapi budaya bagate di Nyiur Melambai tetap eksis.  Dinasehati dengan ajaran kitab suci, dihimbau oleh pemerintah tapi lagi-lagi budaya ini nggak ada matinya. Penyebabnya ada berbagai faktor sehingga budaya ini tampaknya sulit hilang dari bumi Nyiur Melambai.  Nah, saya mencoba menelusuri faktor-faktor penyebab seseorang bagate:

          Pertama, dengan bagate akan memberikan keberanian alias cara untuk tampil macho (tunjung jago'). Dengan  bagate, maka seseorang akan mendapatkan keberanian yang secara alami tidak dia miliki. Ini jadi modal buat nyong-nyong alias cowok-cowok yang nggak pede untuk mentransformasi dirinya supaya jadi berani. Supaya berani tampil, berani ngomong maka perlu doping dan caranya ya dengan bagate. Itu yang ada dalam pikiran anak-anak muda.
          Alasan dengan bagate akan memberi keberanian sebenarnya bertentangan  dengan pandangan orang luar Manado tentang orang Manado sendiri bahwa orang Manado itu punya percaya diri atau keberanian. Jadi sebenarnya tanpa bagate pun potensi kepercayaan diri dalam diri orang Manado sudah ada. Dan bagi cowok yang mau mendekati cewek dengan cara bagate harusnya malu karena sebenarnya dia sedang memanipulasi dirinya dan cewek yang didekatinya. Artinya keberaniannya itu bukan natural dari dirinya tetapi karena doping minuman keras.

          Kedua, dipengaruhi teman-teman. Seseorang memulai minum itu biasanya tidak secara spontan sendiri tetapi dipengaruhi teman. Supaya dianggap setia kawan atau karena sungkan dengan ajakan teman akhirnya dia mulai minum-minuman keras. "Kalu nyanda minum, nyanda ba tamang!", ungkapan ini secara halus sekaligus paksaan yang menyebabkan seseorang akhirnya ikutan bagate.
          Alasan kesetiakawanan akhirnya dimanipulasi supaya seseorang menjadi ikut minum. Harus diakui tekanan teman begitu kuatnya mempengaruhi seseorang untuk minum. Tapi saya pernah menjumpai ketika kita sendiri punya prinsip untuk tidak bagate maka orang-orang yang bagate pun sebenarnya respek sama kita. Kalau ada ajakan atau tawaran mungkin saja mereka sedang mengetes seberapa kuat iman atau nyali kita menghadapi godaan. Bisa saja muncul tudingan yang kadang memerahkan telinga kita,"Ngana laki-laki atau bukang?" Tapi pegang prinsip,"Yang waras ngalah," jadi kita yang 'sadar' nggak perlu membuktikan diri dengan ikut minum atau membalas dengan kata-kata yang memancing emosi. Tetaplah cool. 

          Ketiga, penghangat dalam acara kumpul-kumpul atau kongkow-kongkow.  Dengan kata lain ‘nggak bagate maka ngga rame’. Dengan bagate maka suasana dijamin pasti akan lebih seru, diskusinya jadi rame karena masing-masing jadi mulai mengeluarkan kata-kata yang kalau nggak minum nggak akan keluar. Makanya dijuluki air kata-kata.
          Awalnya mungkin membuat diskusi jadi seru tapi lama-kelamaan malah omongan tambah ngelantur dan kalau dalam keadaan panas seperti ini maka pikiran, hati dan lidah sudah nggak sinkron. Omongan yang keluar sudah nggak bisa dikontrol dan langsung memancing emosi dan ujung-ujungnya berantem. Kalau udah begini, wah berabe. Teman jadi lawan gara-gara sudah lupa diri dan akhirnya merusak persahabatan atau persaudaraan. Betapa sering pertumpahan darah terjadi awalnya dari minum-minuman keras dan menjelma menjadi keributan.
Jadi gimana kalau sudah disodorkan minuman pas kita lagi kumpul-kumpul nih?Saya pernah melihat seseorang yang mantan peminum ketika disodori minuman dia langsung bilang,”Saya sekarang minumnya kopi, so nyanda minum begitu.” Mendengar ucapan ini anehnya teman-temannya yang tukang minum bisa mengerti.  Jadi sebenarnya kita bisa menolak secara halus dengan mengatakan bahwa kita lagi kepengen kopi atau ngidam kopi, ha ha ha.

          Keempat, memberikan euphoria atau kegembiraan secara individu. Terutama berlaku untuk orang yang bagate sendiri maka dia akan menikmati euphoria alias nge-fly atau kondisi melayang sebagai pelarian dari galau atau stress yang dia alami. Ibarat obat terlarang, bagate itu memberikan efek yang sama dan menjurus nantinya kepada kecanduan.
Kegembiraan atau kondisi nge-fly itu sebenarnya cuma ilusi alias semu belaka karena setelah dia sadar, masalah itu belum hilang. Malah bisa jadi tambah runyam. Kegembiraan atau keceriaan atau relaks yang didapat bukanlah relaks yang sesungguhnya tapi kegembiraan yang palsu. Kita sendiri tidak mau barang palsu makanya harus kembali ke realita, ke yang asli! Dan orang yang mau nge-fly dengan cara bagate itu kudu belajar dari pengalaman karena banyak yang mau mengalami sensasi ‘melayang” eh malah melayang selamanya alias game over alias mati!
Kelima, sebagai penghangat tubuh. Awalnya dikenal sebagai minuman penghangat tapi ternyata minuman ini menjadi minuman pemanasan untuk hal-hal yang menimbulkan malapetaka! Di kalangan orang Minahasa ada sindiran tentang minuman ini.  Katanya kalau minum Cap Tikus satu sloki (sejenis gelas kecil) untuk sekedar tambah darah, memanaskan tubuh. Minum dua sloki mulai banyak bicara. Tiga sloki pasti akan cari gara-gara. Empat sloki sudah pasti bikin perkara. Minum lima slokibikin tumpah darah. Enam slokimasuk penjara. Akhirnya, minum tujuh slokimati dan masuk neraka.


Budaya bagate = Budaya Kematian

World Health Organization (WHO) pada tahun 2011,mencatat 2,5 juta penduduk dunia meninggal akibat alkohol dan 9 persen kematian tersebut terjadi pada orang muda, yakni usia 15-29 tahun. Usia yang produktif tapi malah mati sia-sia. Minum alkohol juga memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Medicinet melaporkan kematian anak muda sebanyak 2000 orang per tahun di bawah umur 21 tahun akibat pengaruh alkohol. Belum lagi kriminalitas seperti pemukulan atau perkelahian dan berujung pada pembunuhan akibat pengaruh alkohol. Sayang sekali Sulawesi Utara tidak punya data yang merekam kecelakaan atau kematian karena alkohol. Kalau ada mungkin kita akan terkaget-kaget barangkali!
Sebagai orang Minahasa, saya sendiri prihatin dengan budaya bagate. Bisa dibilang bahwa budaya bagate itu identik dengan budaya kematian.  Mungkin yang terbiasa bagate akan protes dengan ungkapan yang agak keras ini. Data atau statistik memang tidak komplit tapi coba cek aja  di Mister Google maka akan terdisplay  kasus-kasus kematian atau kriminalitas yang dipicu karena bagate..
Saya tumbuh dan besar di kampung yang di dalamnya ada orang-orang yang akrab dengan bagate. Dan saya mengenal anak-anak muda yang tidak pernah mencapai usia paruh baya ataupun tidak sampai menginjak usia seperempat abad dan dengan cepat mengakhiri hidupnya hanya gara-gara bagate. Saya sendiri juga menyaksikan teman atau saudara yang menjadi korban karena bagate. Di Minahasa/Manado kisah yang serupa sering kita dengar. Amat memprihatinkan ketika jiwa anak-anak muda itu melayang selamanya…Begitu cepat dan sia-sia.

Budaya Bagate = Budaya Bunuh Diri

Sebenarnya dengan bagate itu adalah cara untuk bunuh diri. Data The Mental Health Foundation1 melaporkan bahwa:
·         65% kasus bunuh diri dikaitkan dengan minum minuman keras berlebihan;
·         70% dari pria yang bunuh diri telah minum alkohol sebelum bunuh diri. 
Alkohol walaupun diminum sedikit-demi sedikit tetap saja racun dan itu akan masuk dan menggerogoti tubuh seseorang. Asal tahu saja, kadar alkohol dalam minuman keras tradisional (CT) itu sangat tinggi yaitu 40% bahkan lebih!, setara dengan minuman vodka Rusia. Secara logika saja, tubuh kita ini sebagian besar terdiri dari air tapi dipaksa untuk dimasukin cairan yang tidak sesuai. Ini namanya pemaksaan dan kalau tubuh kita bisa ngomong, dia sebenarnya akan teriak! Bukan ini yang gue mau, katanya. Tapi yang minum malah berkata,”Nah, ku tahu yang ku mau.” Dengan kata lain kita sendiri sedang menyiksa organ-organ tubuh kita secara konstan. Apalagi yang dimasukin ini adalah alkohol yang mengandung unsur membakar maka orang yang bagate itu secara perlahan tapi pasti sedang membakar organ-organ tubuhnya sendiri.
Walaupun ada studi yang mengatakan ada manfaat dari bagate dengan takaran tertentu tapi masih tetap kontroversi. Bahkan konsumsi sedikit juga tetap akan memberikan efek dalam jangka panjang. Jadi kalau mau amannya, lebih baik jauhi bagate itu.


Ngana Pe Hidop Berharga

Kiapa so, kita pe hidop kwa! Mo mabo sampe malintuang, ini kita pe urusan! Hal ini sering muncul ketika seseorang bereaksi saat ditegur waktu mo bagate. Ini menarik, senada dengan ungkapan,"It's my life, so what gitu loh".  Ungkapan ini menunjukkan  prinsip anak-anak muda yang mengklaim hidup ini adalah miliknya. Masa muda itu adalah haknya untuk bersenang-senang guna menikmati kepuasan yang bisa dia gapai di dunia ini. Jadi mau dia minum kek, mau teler kek, mau jungkir balik itu adalah kesenangan yang  kudu dijalani. Pandangan ini sejalan dengan hedonisme, yang penting puas, nikmati dulu kesenangan yang ada, akibatnya nggak perlu dipikirin apalagi caranya!

Benarkah torang pe hidup ini torang punya sandiri? Tunggu dulu, orang-orang yang punya pandangan hidup seperti ini so lupa alias lupa  diri (namanya so mabo :), karena sejatinya torang pe hidup bukan torang punya sandiri. Hidup kita ini berasal dari Pencipta kita yang Agung dan Dia mendisain hidup kita untuk bisa mencapai tujuan yang baik dan mulia. Nah, disinilah yang tidak disadari oleh kawula muda yang berpikir hidupnya adalah miliknya sendiri. Mengklaim bahwa hidup kita adalah milik kita sendiri sebenarnya menunjukkan arogansi alias penyombongan diri yang tidak berdasar. Dengan kata lain kita sebenarnya tidak menghargai apa yang Tuhan pada diri kita dan kita menyia-nyiakan kesempatan dan hidup yang indah yang Tuhan berikan. "Life is beautiful," Hidup itu terlalu indah untuk dikorbankan demi bagate. Bagate itu yang bikin hidup bukan lebih hidup tapi jadi perlahan-lahan menuju kerusakan dan kehancuran.

Ada satu ungkapan kitab suci yang terkenal mengatakan bahwa,”Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Dalam ungkapan ini terungkap suatu makna ganda yang amat penting  yaitu kita juga sepatutnya mengasihi diri selain mengasihi sesama. Mengasihi diri? Artinya jelas bukan narsis atau cinta diri karena orang yang cinta diri mana mungkin mengasihi sesama, iya kan? Lalu apa artinya? Mengasihi diri berarti menghargai diri sendiri. Menghargai diri berarti menjaga bodi, hati, pikiran dan hidup dengan baik.

Tubuh atau diri kita ini sangatlah berharga. Maka perlu dijaga bukan hanya dengan makanan sehat tapi juga minuman dong. Bagi seorang muda, salah satu anugerah sekaligus modalnya adalah tubuh yang sehat sehingga bisa dipakai untuk beraktifitas. Kalau bodi sudah afkir alias udah rusak maka spare partnya nggak semudah mengganti onderdil mobil. So, lebe bae kita jaga dari sekarang kalau nggak suatu saat nanti baru menyesal.

Merdeka Dari Bagate

Sebagai penutup, saya jadi terpikir bahwa bulan ini adalah bulan kemerdekaan. Indonesia sudah lama merdeka tapi sayangnya masih banyak orang terutama di Nyiur Melambai yang belum merdeka dari bagate. Mereka ibarat kata masih terbelenggu dengan budaya minum (minuman keras) yang sebenarnya tanpa disadari membuat mereka jadi tidak berdaya. Memang kelihatan dari luar tampaknya bagate itu jadi jagoan tapi tubuhnyatepatnya di dalamnya sebenarnya keropos.

Bagate itu sebenarnya cara kerjanya mirip dengan drugs, membuat seseorang kecanduan, tidak bisa lepas jadi seolah-olah tubuh itu harus terus diisi dengan alkohol. Hm, kalau sudah begini gimana mau maju. Kabar baiknya, selalu ada harapan. Orang bisa stop bagate dan tidak bergantung pada miras. Dengan cara stop bagate inilah kita bisa benar-benar merdeka dari minuman keras dan mengisi kemerdekaan.

Sebagai orang Minahasa kita pasti ingat spirit perjuangan Wolter Mongisidi, Pierre Tendean, dan banyak anak-anak muda Minahasa yang berjuang dengan darah dan nyawa merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Visi mereka sebenarnya adalah vision of life dan vision for life. Mereka berjuang agar generasi mendatang bisa hidup, bukan hanya sekedar eksis tapi hidup dan berjuang untuk hal-hal yang berguna. Sedangkan bagate itu sebaliknya, bukan vision for life tapi suicide alias bunuh diri! Pertanyaannya, maukah kita menghargai perjuangan mereka dan mempergunakan kemerdekaan yang ada saat ini dengan menjalani hidup dengan baik? So, sadar jo mulai dari sekarang. Jang bagate, karena bagate itu adalah barisan gampang teler. Stop bagate, OK? Merdeka! 




YOU MIGHT ALSO LIKE

0 Comment:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements