Friday, March 02, 2012

Jeremy Lin : Bermain Untuk Memuliakan Tuhan

Do you want to share?

Do you like this story?

Jeremy Lin adalah bintang baru NBA yang terus bersinar dengan membawa klubnya New York Nicks meraih kemenangan demi kemenangan. Sebagai starter dia membuat rekor baru NBA yaitu penjadi pemain pertama yang mencetak point terbanyak dalam lima game yaitu sebanyak 136 point melampaui Shaquille O Neal. Kemunculannya sebagai bintang baru yang langsung melejit dan menarik perhatian publik Amerika termasuk Presiden Obama sendiri yang ikut memantau dan memberikan pujian bagi Lin. 



Impact-nya tidak hanya melanda Amerika tapi sampai ke China, Taiwan dan banyak orang di seluruh dunia. Klubnya sendiri kewalahan menjual replika baju dan kaosnya yang bernomor 17 karena telah diserbu oleh fans dan penggemar barunya. Fenomena Lin memunculkan istilah baru "Linsanity" dan kisahnya sendiri diplesetkan sebagai "Linderella Story".

Kendati dibanjiri pujian, Jeremy Lin tetaplah sosok yang rendah hati dan  religius. Lin memulai setiap pagi dengan devosi sebelum ke gym untuk berolahraga. Saat dia mulai khawatir and cemas, ia akan membisikkan satu ayat.

Dalam banyak kesempatan pula ia -kali saat diwawancara, Lin menegaskan bahwa ia diberikan kesempatan oleh Tuhan dan dia bersyukur bahwa Tuhan memberikan anugerah yaitu kesempatan kepadanya.

Tapi perjuangan Lin untuk tampil di NBA sesungguhnya tidak mudah. Dia sempat menghadapi tantangan yang cukup berat. Dia merefleksikan  kembali pergumulannya dan mengingat ayat favoritnya yang berbicara tentang ketekunan dalam penderitaan. 
 
Jeremy Lin menggambarkan perjalanan sendiri sejauh ini, ia mengutip Roma 5:3-5, yang berbunyi: "Tidak hanya itu, tetapi kita juga bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan karakter, dan karakter menimbulkan, pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita melalui Roh Kudus, yang telah diberikan kepada kita. "

"Alkitab berbicara banyak tentang bagaimana Allah mengambil situasi buruk dan situasi sulit dan ia mengajarkan kita dan dia menggunakan saat-saat penderitaan untuk menarik kita lebih dekat dengan dia dan itulah yang saya mencoba untuk fokus pada saat-saat itu," kata Lin selama wawancara dengan GoodTV, saluran Kristen Taiwan.

"Bagi saya, ketika saya terjatuh, saya benar-benar mencoba untuk bangkit kembali dan melanjutkan lagi. Saya tidak ingin menyerah karena Allah adalah sumber kekuatan saya."

Point guard 23 tahun itu telah terjatuh  beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, dimulai dengan perjalanannya untuk masuk ke perguruan tinggi. Penolakan demi penolakan dialaminya dan dia masih dipandang sebelah mata.

Permohonan untuk mendapatkan beasiswa (athletic scholarship) yang ditawarkan ketika masih di high schooI  untuk bisa masuk ke Stanford University sebagai sekolah yang menjadi pilihan utamanya, ditolak. Lin memutuskan setelah enam bulan doa untuk mendaftar di Harvard.

"Bagi saya, saya tidak ingin pergi ke Harvard. Itu seperti pilihan terakhir saya. Tetapi Tuhan menutup semua pintu lain dan membuat sangat jelas bahwa dia ingin aku pergi ke sana sehingga saat melihat ke belakang  saya sangat  bersyukur bahwa saya tidak pernah pergi ke Stanford atau sekolah lainnya, "ungkapnya.

Lin seharusnya sudah bisa bermain basket di NBA di tahun 2010 setelah lulus dari Harvard tetapi sayangnya dia tidak masuk dalam draft seleksi NBA. Donnie Nelson, presiden basketball operations untuk Dallas Mavericks dan juga seorang Kristen yang saleh, memanggil dia dan mengatakan kepadanya bahwa Allah mempunyai rencana yang sempurna baginya. "Dia bilang ... 'Ini bisa jadi hanya ... penghalang lain yang Anda miliki untuk diatasi, tetapi Allah berdaulat." Itu adalah pengingat kepada saya karena ia mengundang saya untuk bermain untuk tim liga musim panas, " kenangnya.

Setelah bermain di Liga Musim Panas, Lin menerima tawaran untuk bermain di beberapa tim termasuk Mavericks, Los Angeles Lakers dan Golden State Warriors.

Pada akhirnya, ia menandatangani kontrak dua tahun dengan Warriors, tim kesayangannya saat tumbuh dewasa, pada bulan Juli 2010, meskipun ia dibebaskan setelah satu tahun tanpa banyak kesempatan untuk bermain.

Dia kemudian melanjutkan  ke  Houston Rockets yang memberinya kesempatan bermain tapi hanya kurang dari sebulan dilepaskan karena Rockets mengambil pemain lain.

New York Knicks  lalu mengklaim Lin sebagai pemain. Ia hanya duduk di bangku cadangan hingga pada tanggal 4 Februari pelatih Mike D'Antoni  memberikan kesempatan kepada Lin untuk bermain menggantikan Carmelo Anthony karena Carmelo cedera.

Kerendahan hatinya dan luar lapangan, etos kerja keras, dan memuji kepada Allah setiap kesempatan dia mendapat telah memicu sebuah basis penggemar yang luar biasa.

Meskipun terus meraih ketenaran dan popularitas, Lin tetap berkomitmen untuk permainannya, timnya, dan imannya.

"Tuhan memberikan saya sebuah platform unik dan sekarang saya mencoba untuk menggunakannya dengan cara yang benar."

Ketika Lin mencapai karir tertinggi dalam pertandingan melawan New Jersey Nets pada tanggal 4, rekan setimnya Carmelo Anthony menyarankan kepada pelatih bahwa Lin bermain lebih di babak kedua.

Mengingat lebih banyak kesempatan karena cedera dan kemunduran dari pemain utama lain di timnya, Lin mengejutkan semua orang dan menjadi sensasi semalam ketika ia membantu mengamankan  tujuh kemenangan beruntun bagi Knicks.
Sebagai pemain baru, Lin bermain hebat dalam lima laga terakhir, dan mencetak rata-rata 26.8 poin dan 8 assist yang membawa teamnya untuk memenangi kelima laga tersebut.. Mengenai keberhasilannya, Lin berkata itu bukan karena dia tetapi segala yang dilakukannya ada dalam kontrol Allah. "It was all in God's controll. His fingerprints are all over my story," kata Lin.


Saya bisa menggunakan televisi nasional dan media untuk berbicara tentang iman saya, untuk berbicara tentang apa yang Tuhan telah lakukan dalam hidup saya, bukan apa yang telah saya lakukan untuk NBA. "

Lin  mengakui, bagaimanapun, bahwa ia masih berjuang dengan kebanggaan dan "godaan dunia." Tapi dia mengingatkan dirinya sendiri terus-menerus dari mana identitasnya berada, yaitu dalam Kristus dan bukan pada karir  NBA.

"Untuk memahami bahwa saya tidak bermain untuk apa pun di bumi ini, saya bermain untuk hadiah saya di surga, untuk panggilan di atas seperti yang Rasul  Paulus katakan,  itulah yang  saya terus ingatkan kepada diri saya diri sendiri setiap hari saat bangun tidur."




"Saya tidak bermain untuk membuktikan apa-apa kepada orang lain," kata Lin. "Hal itu mempengaruhi permainan dan sukacita saya tahun lalu. Saya merasakan saya perlu membuktikan sesuatu. Tapi saya telah menyerahkan semuanya pada Tuhan. Saya tidak lagi berjuang dengan pendapat orang lain lagi."

"Saya [harus] benar-benar memahami bahwa saya tidak bermain untuk semua penggemar saya, untuk keluarga saya, bahkan untuk diriku sendiri, saya  benar-benar harus bermain untuk memuliakan Tuhan," katanya. "Dan ketika orang lain melihat saya bermain basket ... cara saya memperlakukan rekan tim saya, lawan, itu adalah cerminan dari gambar Allah dan kasih Allah,  jadi itu hal yang saya mencoba untuk fokus."
Bagi Lin, audiencenya adalah Tuhan. Dia bermain untuk kemuliaan Tuhan.

Di masa depan, Lin berharap menjadi seorang pendeta dan bekerja dengan masyarakat kurang mampu. Dia menggambarkan bahwa beberapa rekan tim dibesarkan dalam keluarga berantakan dan lingkungan miskin, tidak memiliki banyak sumber daya. Dia menginginkan untuk menyinari komunitas tersebut dan membawa Injil kepada mereka juga.

Untuk saat ini, Lin hanya mencoba untuk fokus pada apa yang ada di depannya.

"Tapi sekarang saya berfokus pada apa panggilan saya dan misi saya dan segala sesuatu yang lain saya serahkan kepada Allah."


"Slowly, God revealed more to me. I started learning how to trust in Him, not to focus so much on whether I win or lose but to have faith that God has a perfect plan: For me to put more of an emphasis on my attitude and the way that I play, rather than my stats or whether we win a championship. I learned more about a godly work ethic and a godly attitude, in terms of being humble, putting others above yourself, being respectful to refs and opponents. There are really so many ways you can apply your faith to basketball."

YOU MIGHT ALSO LIKE

0 Comment:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements