Tuesday, August 16, 2011

Robert Wolter Mongisidi

Do you want to share?

Do you like this story?

Muda, ganteng, cerdas dan berkharisma. Itulah Robert Wolter Monginsidi, sosok pahlawan nasional yang dianugerahi gelar tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana). Di usia yang masih sangat muda dia menjadi pemimpin gerilya Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi melawan Belanda. Perjuangan beliau yang gigih melawan Belanda tidak akan terlupakan bukan hanya oleh rakyat Indonesia tapi bagi pihak Belanda waktu itu apalagi kelihaiannya meloloskan diri cukup membuat Belanda pusing dan kewalahan. Perjuangan yang berani, tanpa kompromi serta setia hingga akhir menjadi motto hidupnya sampai detik terakhir dia menghembuskan nyawaya. Meninggal di usia muda, masih 24 tahun tapi perjuangannya tidak akan terlupakan.


Beberapa menit sebelum dieksekusi, pemimpin gerilya yang ditakuti tentara pendudukan Belanda itu menjabat tangan serta mengampuni regu serdadu yang bertugas menghabisi nyawanya. Wolter berkata:" "Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara. Mungkin Wolter sedang mengingat ucapan pengampunan Tuhan Yesus saat penyaliban-Nya di kayu salib.

"SETIA HINGGA TERAKHIR DALAM KEYAKINAN!" itulah sebuah tulisan Wolter yang ditemukan pada Alkitab yang dibawanya ketika dieksekusi dilakukan. Itulah pernyataan keyakinannya kepada Tuhan dan perjuangannya untuk Kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak akan pernah pudar.


Dalam sepucuk surat untuk seorang gadis yang tinggal di Jakarta, Milly Ratulangi — sepucuk surat yang ditulisnya empat hari sebelum hukuman mati itu dijalaninya –  ia menggambarkan, dengan kalimat puitis yang menggetarkan, anak-anak muda zamannya “sebagai bunga yang sedang hendak mekar…digugurkan oleh angin yang keras”.(http://caping.wordpress.com/category/tokoh/page/21/).

Saya sendiri (Penulis) adalah pengagum beliau. Pas waktu kelas 5 atau 6 SD saya sempat menonton filmnya. Kekaguman saya bertambah karena ekspresi patriotismenya serta goresan-goresan penanya walaupun singkat tapi ternyata sangat luar biasa. Terkesan dan penasaran dengan kisah beliau serta goresan-goresan penanya, saya mencoba untuk melakukan wawancara dengan beliau. Berikut adalah petikan wawancara dengan beliau:

Coba ceritakan latar belakang Anda dan keluarga Anda sewaktu kecil.

Saya sebenarnya lahir di pesisir desa Malalayang, Manado  dari suku Bantik. Saya lahir pas hari Valentine yaitu tepatnya pada tanggal 14 Februari 1925. Saya putera ke 4 dari 11 bersaudara, Papa saya adalah Petrus Monginsidi dan Mama saya Lina Suawa.

Dari biografi dan catatan yang saya dapat dari Mr. Google, nampaknya Anda sempat menjadi guru di usia 18 tahun. Ini sangat menarik.   Bisa ceritakan latar belakang pendidikan Anda?

Ya saya sendiri melihat bahwa pendidikan itu penting. Jadi saya masuk pendidikan HIS tahun 1931, kemudian lanjut ke Sekolah MULO Frater Don Bosco Manado dan berlanjut ke Sekolah Pertanian yang didirikan Jepang di Tomohon serta Sekolah Guru Bahasa Jepang.  Setelah tamat saya mengajar bahasa Jepang di bebeapa tempat antara lain di Malalayang, Liwutung dan Luwuk Banggai. Karena saya pingin terus belajar akhirnya saya masuk SNIP Nasional di Makassar. Waktu itu saya sampai kelas III, itu di tahun 1945.

Apa yang mendorong Anda untuk berjuang dan angkat senjata. Bukankah lebih baik ngajar di sekolah saja dan bukankah itu sudah termasuk bentuk perjuangan?

Saya tidak bisa berdiam diri melihat kekejaman Belanda. Saya merasa sudah cukup waktu buat saya belajar dan mengajar di sekolah.  Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana berjuang kembali untuk mempertahankan kemerdekaan NKRI. Itulah yang mendorong saya untuk mengadakan konferensi pada tanggal 17 Juli 1946, di desa Rannaya. Dalam konferensi itu, dibentuk suatu induk organisasi kelaskaran yang disebut LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi), terpilih sebagai Ketua Ranggong Daeng Rongo dan Sekjennya adalah saya sendiri.

Keberanian, kecerdasan dan pembawaan diri Anda di medan pertempuran sangat disegani baik kawan maupun lawan. Ini yang juga digambarkan dalam film.  Saya ingin tahu, bagaimana Anda melakukannya di lapangan atau di medan sebenarnya? 

Ya, saya dipercaya memimpin aksi pertempuran melawan tentara Belanda baik didalam kota maupun di luar kota. Peralatan yang kami gunakan sih memang kalah canggih dibanding Belanda tapi kami menggunakan berbagai taktik dan strategi. Tentu saja itu belum cukup,  ditambah dengan tekad dan keyakinan maka saya yakin apa yang kami lakukan pasti akan merepotkan musuh. Dan itulah yang terjadi.

Anda termasuk lihai dalam meloloskan diri. Bisa ceritakan tentang hal ini? 

(Tersenyum). Lihai? Yang pasti saya tidak melakukannya dengan hipnotis atau main sogok seperti di zaman Anda sekarang. (Sekarang dia tertawa dan penulis yang tersenyum pahit :). Duit saja nggak punya. Ditambah lagi penjara jaman dahulu benar-benar penjara jadi bukan tempat untuk berleha-leha kayak zaman  Anda tuh. Saya ingat betul, waktu itu saya di tangkap tentara Belanda pada tanggal 28 Februari 1947 di Sekolah SMP Nasional Makassar. Saya dirantai di belakang terali besi tapi saya tidak menyerah. Pada tanggal 17 Oktober 1948 malam, bersama Abdullah Hadade, HM Yoseph dan Lewang Daeng Matari saya melarikan diri dari penjara melalui cerobong asap dapur.  Sebelum pelarian dilaksanakan, kawan-kawan saya dari luar telah menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukan di dalam roti.

Lalu bagaimana kisahnya sehingga Anda tertangkap kembali?

Setelah saya meloloskan diri, Belanda semakin gencar untuk menangkap saya, jadi mereka semakin mempersempit ruang gerak kami dan pasukan kami.  Belanda juga melancarkan taktik yang sangat lihai yaitu mereka memberikan bujukan hadiah bagi siapa yang akan menangkap saya dan teman-teman. Saya dihargai paling tinggi yaitu uang Rp 400,- Abdullah Hadade Rp 300,- HM Yoseph Rp 200,- dan Lewang Daeng Matari Rp 100,-. Dengan hadiah uang para pejuang kami dikhianati, dimana-mana ada mata-mata Belanda sehingga saya sempat berujar,"Tidak ada lagi bantal untuk kubaringkan kepalaku disini." Akhirnya saya tertangkap pada tanggal 28 Oktober 1947.  Saya dimasukkan ditahanan di Kiskampement Makassar dengan tangan dan kaki saya dirantai dan dikaitkan di dinding tembok. Saya dijatuhi vonis hukuman mati pada tanggal 26 Maret 1949 oleh hakim Meester B Damen.

Saya mendengar bahwa Anda sempat menulis pesan-pesan lewat goresan pena Anda sewaktu dalam penjara sebagai ungkapan tekad dan kesetiaan terhadap ibu Pertiwi serta harapan untuk meneruskan perjuangan suci buat bangsa. Bisa dijelaskan pesan apa yang Anda tulis? 


1.Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan.
2.Jangan berhenti mengumpulkan pengetahuan agar kepercayaan pada diri sendiri tetap ada dan juga dengan kepercayaan teguh pada Tuhan, janganlah tinggalkan Kasih Tuhan mengatasi segala-galanya.
3.Bahwa sedari kecil harus tahu berterima kasih, tahu berdiri sendiriâ!.belajarlah melipat kepahitan ! Belajar mulai dari 6 tahun, dan jadilah contoh mulai kecil sedia berkorban untuk orang lain.
4. Apa yang saya bisa tinggalkan hanyalah rohku saja yaitu roh kesetiaan hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apapun menuju cita-cita kebangsaan yang ketat.
5.Memang betul, bahwa ditembak bagi saya berarti kemenangan batin dan hukuman apapun tidak membelenggu jiwa
6.Perjuanganku terlalu kurang, tapi sekarang Tuhan memanggilku, rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi. Semua air mata, dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kokoh untuk tanah air kita yang dicintai Indonesia.
7.Saya telah relakan diriku sebagai korban dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang, saya penuh percaya bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan yang Maha Esa.
8.Jika jatuh sembilan kali, bangunlah sepuluh kali, jika tidak bisa bangun berusahalah untuk duduk dan berserah kepada Tuhan.

(Pesan-pesan itu adalah pesan asli Wolter Robert Mongisidi, tanpa diubah atau diedit oleh Penulis).

Ketika tiba pada hari Senin tanggal 05 September 2005 1949 sebagai hari penghukuman pada sekitar jam 05.00 subuh, di Panaikang Tello, putera bangsa terbaik Robert Wolter Monginsidi dengan gagah berani berdiri tegak di hadapan regu penembak. Kembali dia menulis dan meninggalkan pesan :

1. Setia Hingga Akhir di Dalam Keyakinan!
2. Saya minta dimakamkan di Polombangkeng karena disana banyak kawan saya yang gugur.
3.Sampaikan salam saya kepada Papa, saudara-saudara saya di Malalayang serta teman-teman seperjuangan, saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tercinta.

Sesaat sebelum menuju ke tempat penembakan Wolter menjabat tangan semua yang hadir dan kepada regu penembak. Wolter berrkata; “ Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara.".

Ketegaran dan keteguhan hati menghadapi moncong-moncong senjata yang dibidikan kepadanya dan menolak ketika matanya akan ditutup, ia berucap; "Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.".

Dengan pekikan, "Merdeka!.merdeka..merdeka.. !!! dari Wolter, maka 8 butir peluru dimuntahkan ketubuhnya, 4 peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar, dan seketika ia terkulai. Wolter gugur dalam usia 24 tahun.

Masa perjuangannya memang sangat singkat. Tapi jiwa nasionalismenya dipadu dengan keberanian, keteguhan hati, kesetiaan dan imannya sungguh sangat luar biasa.
Dia memberikan contoh jiwa nasionalisme dan patriotisme bagi anak muda masa kini.
Dia memberikan contoh ketekunan dalam belajar bagi anak muda, meraih pendidikan. yang lebih baik.
Dia memberikan contoh integritas dan pengorbanan bagi para pemimpin bangsa saat ini yang diwarnai krisis moral dan pemerintahan yang korup.
Dia memberikan contoh keberanian bagi seorang pemimpin untuk tegas dan tidak ragu-ragu serta mau keluar dari comfort zone untuk kepentingan bangsa.

Dia memberikan contoh iman bagi orang percaya yang mudah goyah imannya.

Robert Wolter Mongisidi, He is the True Hero.  



Wawancara imajiner ini didasarkan pada tulisan Drs A Noldi . Mandagie ditambah sumber lainnya.


YOU MIGHT ALSO LIKE

0 Comment:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements